ADA HAK SAUDARAMU UNTUK KAU CINTAI

Seseorang datang kepada Al-Imam Ghazali untuk bertanya suatu masalah,

“Wahai Tuan Imam, bagaimanakah hukumnya kalau ada orang yang meninggalkan shalat?”

“Hukumnya adalah, kau harus membujuk dan mengajaknya ke masjid!”

Padat sekali jawaban Hujjatul Islam ini. Alih-alih beliau menjawab sesuai dugaan si penanya, bahwa orang yang meninggalkan shalat akan berdosa besar, atau fasik, atau apa.

Ternyata beliau dengan bahasa yang cerdas seperti itu seolah-olah hendak memberi nasihat kepada si penanya agar jangan sibuk menghakimi orang lain, melainkan jadilah bagian dari solusi atas masalah mereka.

Saya teringat pada suatu hari, ketika saya diajak urun rembuk menghadapi satu kasus penipuan yang dilakukan sebuah toko. Memang tidak sampai berpuluh-puluh juta, hanya angka yang kecil saja.

Beliau, yang merasa dipermainkan toko tersebut, tidak henti-hentinya mengumpat si pelaku kelicikan yang telah mengelabuinya. Bahkan saat saya hendak memberi saran agar kasus ini tuntas, beliau sama sekali tidak tertarik, sambil masih saja membicarakan kekesalannya pada toko itu.

Sadarlah saya, bahwa sebenarnya beliau bukan mau mencari solusi. Melainkan hanya mau memuntahkan kebenciannya dengan toko itu agar semua orang mendengar. Saya pun segera undur diri.

Pada kesempatan lain, terjadi pula cerita ketika seseorang mengadukan perbuatan salah satu anggota keluarganya yang sudah di luar batas adab dan akhlak dalam agama Islam.

Atas kejadian ini tentu saja saya secara spontan memberi beberapa pertimbangan yang sekiranya dapat ditempuh untuk menjadi solusi. Tetapi di luar dugaan, masukan-masukan tersebut tidak ditanggapi, justru beliau semakin sibuk saja menghakimi salah satu anggota keluarganya ini! Saya pun kembali undur diri lagi.

Demikianlah, ternyata bagi sebagian orang masih lebih manis rasanya untuk membicarakan aib saudaranya sendiri, daripada mencarikan jalan keluar bagi mereka. Rupanya keinginan untuk memperbaiki saudaranya hanya basa-basi saja.

Oleh karena itu mari kita belajar dari jawaban Al-Imam Ghazali di atas. Bahwa yang tepat kita lakukan ketika melihat sesuatu yang kurang baik dari saudara muslim kita, bukan dengan menambah-nambah gunjingan pada mereka.

Melainkan pikirkanlah bagaimana agar mereka terbebas dari perbuatannya itu, karena kita semua sebagai umat Islam saling bersaudara, dan satu sama lain punya hak untuk dicintai saudaranya dalam urusan dunia dan akhirat.

وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih.”

(Surat Al Hujurat :12)

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

Sumber : Arafat || Channel Telegram,  tulisan dipost[14.12.18 04:55]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *