SELAMAT TAHUN BARU 1440 H

Pernahkah kita membayangkan keadaan para penghuni neraka? Mereka adalah kaum yang selalu sibuk dengan pembalasan atas segala macam dosa-dosa mereka.

Seandainya mereka bisa membawa hartanya di dunia, tentu seluruh harta itu rela ditukar dengan waktu untuk beristirahat meski hanya sedetik saja. Tetapi sia-sia. Neraka adalah jurang yang tak pernah tidur.

Suatu hari Rasulullah berkisah tentang keadaan dua kaum yang sama-sama mengalami kepedihan di neraka. Kaum yang pertama melontarkan pertanyaan kepada sekelompok yang lainnya,

Silakan lanjut membaca tulisan Ustadz Arafat selengkapnya…

“Kelihatannya kalian adalah orang-orang muslim ketika di dunia? Mengapa kalian berada di sini bersama kami golongan orang-orang kafir? Kalau begitu keislaman kalian tak ada gunanya?”

Kaum yang kedua kemudian menjawab pertanyaan tersebut,

“Betul kami semua beragama Islam, tetapi kami banyak mengerjakan dosa besar. Maka Allah menghukum kami di sini atas dosa-dosa tersebut.”

Rupanya Allah mendengar jawaban kaum muslimin itu, maka dengan rahmat-Nya mereka semua diangkat dari lembah neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Melihat pembebasan tersebut, orang-orang kafir yang menyaksikannya menyesali pilihan mereka ketika di dunia,

“Aduhai seandainya kami pernah beriman niscaya siksa kami dicukupkan sampai di sini saja seperti mereka.”

Rasulullah mengakhiri kisah ini dengan membacakan surat Al-Hijr ayat 2,

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.

Jalan cerita di atas sesuai dengan hadist dalam kitab Usrufiyah yang tak asing lagi bagi kalangan penuntut ilmu. Mari kita perhatikan apa sebabnya Allah berkenan memberikan kasih sayang-Nya kepada kaum muslimin tersebut?

Rupanya karena perkataan mereka, bahwa mereka semua adalah orang-orang Islam. Mereka hendak membantah pertanyaan kaum kafir bahwa keislaman mereka tidak ada gunanya dengan kekafiran kalau toh sama-sama masuk neraka.

Tidak. Tetap tidak sama antara pemilik keimanan dan penolak keimanan. Tidak sama. Ketegasan ini dengan lantang dijawab oleh mereka. Iman dan Islam adalah nikmat tertinggi, tak ada yang lebih tinggi selain itu! Allahu Akbar!

Renungkanlah ucapan mereka ini. Meski mereka pelaku dosa-dosa besar dan penghuni neraka sebelum dibebaskan Allah, tetapi mereka memiliki keyakinan yang kokoh dan tegas tentang iman.

Berapa banyak di antara kita yang mengeluh dalam urusan sepele lalu membandingkan dengan orang-orang kafir. Berapa banyak kita yang berkomentar dalam hati meski tidak berani diungkapkan,

“Mengapa orang-orang tidak beriman itu sukses, kaya raya, lancar bisnisnya, sedangkan saya yang muslim rezeki saya tersendat? Kalau begitu tak ada gunanya kah keimanan saya?”

Siapakah di antara kita yang masih menghargai dan menilai iman di hatinya dengan harga yang terlalu murah seperti ini? Aduhai mengapa kita tidak bisa setegas mereka saudara-saudara mukmin kita dalam cerita di atas?

Saudaraku, mari bersihkan hati kita dari keraguan seperti ini. Luaskan hati kita. Janganlah sesempit ini cara pandang kita sebagai muslim.

Berniatlah di tahun baru ini kita akan menjadi muslim yang baru, mukmin yang baru, yang tegas dan kokoh bahwa nikmat iman dan Islam kita tak bisa dibandingkan dengan apapun.

Semoga dengan muhasabah tahun baru ini kita bisa menjadi pribadi yang terlahir kembali. Amiin.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

Sumber : Arafat || Channel Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *